Do we need a label for traveling?

Author: | Posted in My Thoughts 17 Comments

Pernah gak lo ditanya “Elo itu traveler kayak apa sih?” sama sekeliling lo?

Gue sih terlalu sering.

Pada awalnya, karena sering ditanya begitu, gw jadi ngoprek istilah pejalan. Akhirnya dapat tiga istilah pejalan turis, backpacker, dan flashpacker. Gue bahkan mengikuti milis dari dua istilah pejalan yang terakhir.

Setelah tahu mengerti arti/definisi dari tiga istilah pejalan itu, gue merasa ‘klik’ dengan sebutan flashpacker. Ada yang temenan sama gue di Facebook? Nah di bagian interest, gue menyebut soal flashpacking. 😉

Tapi tahun kemarin adalah tahun eksperimen jalan-jalan gue. Most of my trips are unplanned well, but somehow they went great!
Dari semakin gue sering jalan-jalan, semakin banyak ketemu dan ngobrol dengan sesama pejalan…semakin gue merasa, istilah pejalan ini koq udah kayak label for traveling ya?

Awalnya gue pikir istilah pejalan tersebut hanyalah merujuk kepada gaya liburan atau jalan-jalan. Tetapi makin kesini, itu sudah seperti menunjukkan gengsi pejalan. Pejalan satu merasa lebih ciamik daripada pejalan lain dengan gaya liburan yang berbeda.

Ambil contoh untuk istilah backpacker. Berhubung gue selama ini liburan membawa bawaan koper, sering kali kuping gw panas denger komentar model begini,

“Yah Cid, pake ransel dong. Masa koper gitu sih? Ga heits bener.”

*tarik napas panjangggggggggggg*

BOK! Emangnya kenapa dah kalo gue liburan sama sikopermerah? Emang gue minta bayarin tiket liburan sama lo? Emang gue pernah minta lo bawain koper gue?

FYI. Sikopermerah ini pernah beratnya 22kg, dan itu gue angkut sendiri tanpa bantuan orang lain. Gak nyusahin pol!

Terus klo gue pake koper artinya gue horang kayah?? Amin didoain jadi orang kaya. Tapi sayangnya pakai koper tidak berarti liburannya luxurious juga sih. Pernah liat cewek geret-geret koper merah di daerah Poppies Bali? Coba lo samperin deh, siapa tau itu gue loh. 🙂

FYI. Koper gue yg brandnya ternama ini harganya CUMA 300ribuan rupiah. Awet pulak dipakai membabi buta dari 2010. Gak pernah rewel, dibersihkan pun gampang.

Nah sekarang boleh tau ga harga ransel lo yang cetar membahana itu?
Setau gue ga ada ransel yang bisa ngangkut berat 22 kg dengan harga 300ribuan Rupiah, meski itu merek lokal (jangan bahas seken ya, OOT!). Jadi yang horang kayah itu yang mana?

Terus kenapa sih pada enggan dibilang turis?
Bukankah kita sebagai tamu didaerah baru – bukan tempat tinggal kita – itu termasuk kategori turis?
Emangnya ada statistik formal suatu wilayah “Jumlah backpacker/flashpacker yang berkunjung selama 2012.“? Yang ada juga statistik formal jumlah turis lokal atau mancanegara selama tahun 2012.

So we all – the travelers – are tourist in front of the legal view.
I think there is nothing wrong with ‘tourist’ label.

“Tapi klo turis itu kan cuma foto-foto doang, makan enak doang, gak pake susah..turis banget deh.”

Ok “turis banget deh” itu apa sih definisinya? Dan kenapa konotasinya negatif?

Emangnya klo backpacker atau flashpacker itu pejalan yang lebih baik dari sekadar turis? Dude, come on. Don’t be lebay on the label deh.

Turis itu gak mau susah? Ya think?!?!

Dengan high pressure di kantor dan cuti-terbatas-sampe-minta-cuti-sehari-aja-dramanya-bermalam2, jelas dong gue mau liburan yang santai, menikmati pemandangan dan leyeh-leyeh bergembira. Tapi apakah berarti gak mau bergaul dengan penduduk lokal? Tidak menjunjung adat setempat?

Ya, nggak dong. Tidak semua turis tidak mau berbaur dengan warga lokal dan tidak semua flashpacker/backpacker mau berbaur dengan warga lokal. Sering koq gue liat para flashpacker/backpacker ngobrol asik dengan sesamanya, bahkan cenderung bergerombol. Gue pernah melakukan ini.

Tapi gue juga salah kalo belum merasakan semua gaya pejalan itu, jadi tahun lalu pertama kali gue mencoba jalan-jalan ala backpacker.
Praktis? Ya.
Muat banyak? So-so lah.
Nyaman? Hmmm gak juga sih buat gue. Yang ada malah muncul backpain. Wajib hukumnya untuk membawa koyo di ransel gue. Pffttt…

Setelah beli backpack ini, sempet ada yang nanya “Lo beli backpack buat apa Cid? Karena yang lain punya backpack?” Oh well, I don’t buy this backpack because of peer pressure but i do have a plan to have a medium trip where carrying my suitcase will be so troublesome. So this orange backpack looks appealing rather than my lovable red suitcase.

Bokap gue pernah ngomong gini: “Pejalan itu layak diacungi jempol, they’re willing to step out from the comfort zone. Mau berkenalan dengan dunia.”

I am so agree with my dad’s statement.

Regardless the label or traveling-style, it is every traveler’s right to step in at new place. To learn local wisdom, to find a new way of life, to capture the beautiful scenery, and to share it with the loved ones back home.

Let’s stop arguing on who-is-better-on-travelling and just travel, shall we? 🙂

Cheers,
Achied

Comments
  1. Posted by DebbZ
    • Posted by achiedz
  2. Posted by Zam
    • Posted by achiedz
  3. Posted by Halida A
    • Posted by achiedz
  4. Posted by Si Ochoy
    • Posted by achiedz
      • Posted by Si Ochoy
        • Posted by achiedz
          • Posted by Si Ochoy
  5. Posted by ibupenyu
    • Posted by achiedz
  6. Posted by harry_mdj
    • Posted by achiedz
  7. Posted by Indra Setiawan
    • Posted by achiedz

Add Your Comment